Friday, March 16, 2007

'Dreamgirls': Menguak Persaingan di Industri Musik


'Dreamgirls' yang menyabet delapan nominasi di ajang Academy Awards, bukan film musikal biasa. 'Dreamgirls' menyajikan pahit-getirnya kehidupan musisi di bisnis industri musik.

Adalah kelompok The Dreamettes yang nantinya menjadi cikal bakal trio wanita Dreamgirls. The Dreamettes yang terdiri dari Effie White (Jennifer Hudson), Deena Jones (Beyonce Knowles) dan Lorrel Robinson (Anika Noni Rose) awalnya hanyalah kelompok penghibur di kota kelahiran mereka, Detroit.

Mencoba menembus industri musik, The Dreamettes mengikuti sebuah kontes ajang pencarian bakat. Di kontes itu, The Dreamettes bertemu seorang sales mobil Curtis Taylor, Jr (Jamie Foxx).

Untuk menjadikan trio The Dreamettes sukses, Curtis punya cara tersendiri. Bukannya langsung mengorbitkan mereka, The Dreamettes justru dijadikan backing vokal James 'Thunder' Early (Eddie Murphy), penyanyi yang tengah naik daun.

Langkah Curtis menjadikan The Dreamettes sebagai backing vockal Thunder rupanya memang tepat. Perlahan tapi pasti, popularitas trio wanita itu sama dengan Thunder. Malah saat tampil di sebuah hotel di Miami, dikenal sebagai hotel yang banyak didatangi warga kulit putih, pihak hotel meminta The Dreamettes tampil sendiri tanpa Thunder.

Sayangnya popularitas yang didapat harus dibayar dengan mulai retaknya hubungan trio The Dreamettes. Bermula dari keinginan Curtis menjadikan Deena sebagai lead vocal. Padahal selama ini Effie yang memang punya suara paling bagus menempati posisi itu. Effie yang memang dimabuk asmara pada Curtis akhirnya luluh.

Dengan Deena sebagai lead vocal, The Dreamettes semakin menanjak saja kiprahnya di dunia musik. Album laris, tawaran manggung pun tak pernah sepi.

Sama seperti musisi yang pada umumnya tengah naik daun, konflik kembali menerpa The Dreamettes. Kali ini Effie kembali tidak dapat menahan emosinya. Ia akhirnya keluar dan digantikan penyanyi lain.

Menyaksikan 'Dreamgirls' penonton tidak hanya disuguhi konflik dalam sebuah kelompok vokal. Kita juga bisa tahu betapa kejamnya persaingan di industri musik. Untuk The Dreamettes contohnya, saat lagu mereka mulai populer, lagu tersebut justru dijiplak warga kulit putih. Pada masa itu (akhir tahun 1960-an) konflik ras memang masih terjadi di Amerika.

Bukan hanya soal penjiplakan saja, dari 'Dreamgirls', penonton juga diajak untuk melihat kalau uang segala-galanya dalam industri. Demi uang dan memenuhi selera pasar, sebuah lagu yang tadinya lebih bagus bila bergenre pop, diubah menjadi musik yang lebih komersil.

'Dreamgirls' merupakan karya sutradara Bill Condon. Sebelumnya pria kelahiran 22 October 1955 itu pernah sukses menggarap 'Chicago' yang dibintangi Renee Zellweger, Catherine Zetta-Jones dan Richard Gere.

O'ya untuk Anda yang tidak terlalu suka film musikal, mungkin akan sedikit bosan saat menonton 'Dreamgirls'. Nyaris sepanjang film, layar lebar yang akhirnya cuma memenangkan dua piala Oscar itu, diisi dengan nyanyian. Seperti film India, di saat sedih aktor-aktrisnya menyanyi, di saat gembira, mereka pun menyanyi.

No comments: